ANGGUNNYA WANITA BELU MENGENAKAN BUSANA KAIN TENUN

Pariwisata

Mungkin anda masih ingat, melihat acara Road To Festival Fulan Fehan Ke – 3. Lia Bisik tampil menawan dengan balutan busana adat Belu. Sehelai selendang terlihat menempel dibahunya. Lia tampil cantik dengan busana tersebut.

Umumnya wanita yang mengenakan busana adat, tampil dengan rambut disanggul. Lain halnya dengan Lia Bisik. Ia membiarkan rambutnya disisir rapi ke belakang. Rambutnya yang panjang dikuncir dan diikat rapi.

Sementara di bagian depan, ia bereksperimen dengan variasi bentuk poni untuk menyanjung wajahnya. Sejumlah helai rambut yang dibiarkan tergerai, membentuk poni samping sehingga menambah kesan manis penampilannya. Lia Bisik tampil serasi dengan make up sempurna.

Saat berceloteh diatas panggung, terlihat wanita berkulit terang ini tampil menawan. Auranya semakin terpancar berkat tenun Belu yang ia kenakan. Tampil maksimal di atas panggung Road to Festival Fulan Fehan Ke-3, Lia Bisik makin eksotis bersama  tenunan cantik sentuhan para perajin asal Belu.

Keunikan warna kulit bagi Wanita Belu yang satu ini semakin menawan, ketika mengenakan busana tenun ikat warna alami. Dengan anggun, Lia tampak mengitari panggung. Penonton yang hadirpun seolah tak mampu menampik keagungan busana warisan leluhur Belu tersebut.

Lia bisik dalam label pakaiannya, menginterpretasikan warisan dalam bentuk motif pakaian dan corak adat Belu. Warna “monokrom” menjadi identitas pertunjukkan busananya, dengan sedikit sentuhan “Merah, Kuning, Coklat dan Hitam” dalam bentuk sulaman.

Seperti halnya kegiatan Student Fashion Show dan Fashion Show Tenun Tais Belu yang digelar di Pelataran Plaza Pelayanan Publik Timor–Atambua. Pesona Tenun Tais Belu digelaran Fashion Show  merupakan upaya pengembangan kualitas produk tenun dan menampilkan keindahan tenun tradisional dalam dunia fashion. Corak dan motif kainnya sangat impresif dan dekoratif bermakna simbolik

Belu memiliki ciri khas tenun yang berbeda baik dari warna, motif dan jenis bahan serta benang yang digunakan. Warna kain dengan motif figuratif yang bersumber dari flora dan fauna menunjukan identitas lokal setempat. Sumber pewarna alami banyak didapatkan pada tanaman  disekitar masyarakat.

Dalam upaya menjaga warisan budaya, Istri Bupati Belu, Lidwina Viviawati Lay Ng berupaya membuat kain tenun Belu untuk kembali menggunakan pewarna alami. Sebagai Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Belu sering memberikan pelatihan kepada para perajin di Belu dengan menggunakan  pewarna alami. Pewarna alami yang digunakan seperti akar pohon mengkudu, daun jati, batang mahoni, indigo, kunyit, mangga dan pucuk daun jati.

Hingga kini jajaran Pemerintah Kabupaten Belu senantiasa menggiatkan penggunaan pewarna alam yang sudah mulai ditinggalkan. Ajakan berbusana daerah pun, bukan baru kali ini saja. Menurut Lia, Pemkab Belu telah menetapkan hari khusus untuk mengenakan pakaian adat saat beraktivitas.

Lia berharap kegiatan show budaya bisa menjadi sebuah gerakan yang dapat menjalin persatuan bagi seluruh masyarakat Belu di perbatasan Indonesia-Timor Leste. Ia berkeyakinan bahwa, Panggung Seni Budaya Rai Belu memiliki keragaman budaya yang mampu menjadi inspirasi bagi banyak orang. Pkpsetdabelu/Iryanto/Reynaldo/Michello/Trebor).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *