ASF di Timor Leste, NTT Dalam Bahaya

Ekonomi Pembangunan Kesehatan

Timor Leste sudah konfirmasi ada kasus African Swine Fever (ASF). Lembaga Kesehatan Hewan Dunia (OIE) sudah mengonfirmasi virus ASF di Timor Leste. Sampel darah dari 400 ekor ternak babi yang terinfeksi dan 400 lainnya yang telah mati, dari hasil tes Lab Kesehatan Hewan Australia,  ditemukan 41% positif kena ASF. 

Lonceng maut kematian ternak Babi di negara tetangga, sudah pasti menjadi ancaman besar untuk ternak babi di NTT. NTT dalam keadaan bahaya!

ASF merupakan salah satu penyakit dalam bentuk virus yang menyebar dengan begitu cepat dalam populasi ternak babi dan sangat berbahaya karena memiliki tingkat kematian (mortalitas) mencapai 100%. Belum ada vaksin untuk pencegahan penyakit ASF ini. 

ASF bersifat cepat menular, dapat menganggu perdagangan domestik maupun internasional karena akan adanya larangan kegiatan ekspor dan impor serta larangan lalu lintas dengan negara tertular. 

Wabah ASF pertama kali ditemukan di Kenya tahun 1907. Kemudian mewabah ke Eropa, Kuba, dan Asia Timur. Pada Agustus 2019, ditemukan kasus ASF di China. Hingga April 2019, populasi ternak babi berkurang hingga 40 juta ekor. Lebih dari 1 juta ekor ternak babi telah dimusnahkan. Harga daging Babi di China melonjak 30%, produksi daging menurun 30%, dan 3 pabrik pakan ternak milik Cargill ditutup karena penurunan drastis permintaan terhadap pakan babi. 

Ledakan virus ASF terus meluas ke negara-negara Asia lainnya. Februari 2019, kasus ASF pertama kali ditemukan di Vietnam, April ditemukan di Kamboja, Juni di Laos, Agustus di Filipina, dan September di Timor Leste. 

Melihat pergerakkan penyebaran virus ASF tersebut, cepat atau lambat, Indonesia pasti kena. Jika, masuk Indonesia, maka potensi kerugian paling besar akan dialami oleh NTT. NTT adalah provinsi dengan populasi ternak babi tertinggi di Indonesia. Ini sangat berbahaya. Tidak hanya mengancam kehidupan ternak itu sendiri, tapi juga ASF akan punya implikasi pada kerugian ekonomi, sosial dan budaya. 

Populasi ternak babi di NTT saat ini sekitar 2 juta ekor. Kl semuanya mati: kerugian ekonomi yang timbul mencapai 5 triliun. Kl setengahnya saja, 2.5 triliun. Belum lagi implikasi sosial budaya. Ada banyak anak sekolah berpotensial putus sekolah, biaya adat istiadat jadi mahal, asupan protein hewani berkurang yang membuat masalah stunting melonjak naik, dan lain-lain. 

Di Vietnam saja, 3.7 juta ekor Babi sudah dimusnahkan. Kl dihitung, cuma dalam 1 tahun ini saja, sdh lebih dari 5 juta ternak babi di Asia mati/dimusnahkan. Itu setara dengan 10 triliun. Itu baru dari segi kerugian ekonomi dari Babi yg mati. 

Pada Januari  sampai September 2017, Pulau Flores diserang virus Hog Cholera. Ada 10,000 ternak babi yg mati. Itu yg tercatat. Itu setara dengan 25 miliar kerugian ekonomi. Belum termasuk biaya vaksin dll. Program Kedutaan Australia (PRISMA) kerjasama dengan Pemerintah Indonesia: Dirjen PKH, Dinas Peternakan Provinsi NTT, Dinas Peternakan atau yang membidangi Peternakan, Kabupaten/Kota se-NTT, pakan dan obat, pers, dan LSM, berhasil meredam penyebaran virus Hog Cholera di NTT. Kasus Hog Cholera berkurang dan bisa ditangani karena Hog Cholera sudah punya vaksinnya sehingga bisa ditangani cepat. Kl ASF, belum ada vaksinnya, makanya, tingkat mortalitasnya mencapai 100%. Berbahaya sekali. Tak kenal ampun!

NTT itu Babi minded. Ternak Babi merupakan komoditas penting bagi orang NTT. Penting secara ekonomi karena memiliki nilai ekonomi, dan penting secara sosial budaya karena memiliki nilai sosial budaya yang tinggi. Ternak Babi selalu dibutuhkan pada setiap pesta besar keagamaan dan budaya seperti acara syukur atas kelahiran anak, mahar atau belis untuk perkawinan, acara kematian, upacara syukur panen, dan lain-lain. Secara sosiologis dan budaya, ternak babi itu selalu dibutuhkan dalam setiap transisi kehidupan orang NTT, dari lahir, kawin, hingga mati dan bahkan setelahnya. 

NTT harus segera beraksi. Setiap orang NTT harus segera berbuat sesuatu. Informasi kasus ASF di Timor Leste telah Saya sampaikan ke Pak Danny Suhadi, Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTT. Beliau pun langsung memberi respon cepat. Berikut ini himbauan dari Beliau.

*Mohon Perhatian !!!*

Kepada Seluruh  Institusi  Pengelola di Pintu *Perbatasan Negara Untuk  Pengawasan  Lalu Lintas Orang,  Ternak dan Barang*. 

Bahwa sehubungan adanya pernyataan terjadinya *Kasus penyakit hewan menular pada Babi  yaitu Virus African Swine Fever atau ASF di wilayah RDTL* oleh otoritss veteriner setempat,  maka di-mohon bantuan dan kerjasama bapk-ibu untuk mengambil langkah kerjasama dan koordinasi untuk melakukan pengawasan, pengetatan yaitu  berupa pelarangan  terhadap  masuknya *ternak babi dan produk-produknya  berupa daging babi dan atau hasil olahan daging babi atau yang  berpotensi carrier penyakit ini*,   yang  berasal dari Wilayah Negara Timor Leste untuk masuk ataupun melintasi  di dalam Wilayah Indonesia khususnya di seluruh wilayah dan sepanjang perbatasan NTT dengan RDTL. Sejak diberitakan adanya kasus ini. 

Mengingat Penyakit ini mempunyai resiko kematian  ternak babi dan tingkat penularan yang sangat tinggi. dan sampai saat ini penyakit ini belum ada vaksin pencegahannya,    sambil menunggu 

Pemberitahuan resmi  segera disampaikan ke masing2 institusi.

Terima Kasih atas Kerjasama. 

*Kadis Peternakan Prov. NTT*  Danny Suhadi  

Penularan ASF

Penyebaran dan pembawa (carrier) virus ASF yaitu melalui: produk impor dari negara tertular (legal maupun ilegal), swill feed: sisa disposal makanan dari transportasi internasional (pesawat terbang, kapal laut, kapal kargo), barang tentengan WNA dari negara tertular, dan kunjungan atau pekerja asing dan WNI yang datang dan pergi ke daerah tertular. 

Pencegahan ASF

Dirjen PKH (Peternakan dan Kesehatan Hewan), Kementerian Pertanian, telah menyusun panduan teknis tindakan pencegahan ASF sebagai berikut:

Pertama, LAPORKAN ke Puskeswan atau Dokter Hewan jika ditemukan ternak Babi yang sakit atau mati.

Kedua, WAJIB mentaati prosedur biosecurity bagi petugas dan tamu. Sebaiknya, jangan ada orang asing atau orang lain yang datang ke kandang ternak Babi. Karena manusia adalah carrier potensial ASF. 

Ketiga, BERSIHKAN bahan dan alat yang masuk dan keluar peternakan

Keempat, CEGAH kontak langsung antara babi hutan dan babi peternakan

Kelima, KARANTINA  ternak babi  yang baru datang ke peternakan/kandang

Keenam, JANGAN BERI pakan sisa pada ternak babi Anda.

Mari kita sama sama jaga NTT dan Indonesia dari serangan ASF. Jangan sampai kita menjadi “carrier” ASF ke NTT dan Indonesia. Itu akan menjadi dosa sosial yang tak bisa diampuni. Lawan ASF sekarang juga!

Ferdinandus Rondong

Putera NTT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *