BERAWAL DARI KEPRIHATINAN, KAMI WUJUDKAN KEINGINAN MASYARAKAT MANDEU

Pendidikan & Sosbud Religi

RAIMANUK,  Kehadiran  Sekolah Menengah Atas (SMA) Katolik Santo Agustinus Raimanuk mememilik cerita menarik. Berawal dari keprihatinan bersama, cerita lepas yang berlangsung diruang makan Pastoran Paroki Santu Mikhael Webora, Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu ini, berujung serius menghadirkan lembaga pendidikan menengah katolik diwilayah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Malaka dan Kabupaten TTU ini.

“Pada mulanya hanya diskusi kusir di meja makan Pastoran Paroki Santo Mikael di awal Oktober 2018  tentang kondisi pendidikan di wilayah Kecamatan Raimanuk. Diskusi itu berpuncak pada keprihatinan bersama akan pembangunan sebuah sekolah menengah di wilayah ini,”  ungkap Ketua Umum Badan Penyelenggara Pendidikan SMAK St. Agustinus Raimanuk, Aloysius Conzaga Klau, SE dihadapan Bupati Belu, Bimas Katolik Kementerian Agama RI, Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda Kabupaten Belu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Belu bersama jajaran, Pimpinan OPD Kabupaten Belu, Forum Kordinasi Pimpinan Tingkat Kecamatan Raimanuk, Pastor Paroki St. Mikael Webora, Kepala Desa Se-Kecamatan Raimanuk,  Para Kepala Sekolah SD, dan SMP se Kecamatan Raimanuk, Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat dan Masyarakat Kecamatan Raimanuk di Renrua, Senin (1/4/2019).

Camat Raimanuk, Aloysius Conzaga Klau, SE saat memberikan Laporan Terkait rencana awal Pembangunan Sekolah SMAK di Desa Renrua Kecamatan Raimanuk, (1/4/2019)

Diskusi itu kemudian, ujar Aloysius mendapat respon dari Kantor Agama Kabupaten Belu mengingat Peraturan Pemerintah Nomor 55 tahun 2007 khususnya pasal 31- 37 tentang Pendirian dan Pengelolaan Sekolah Menengah Agama Katolik (SMAK) yang bernaung di bawah Kementerian Agama Republik Indonesia, khususnya Bimas Katolik

“Kami pun mengikat janji untuk bertemu dan membahas strategi pendirian SMAK. Pertemuan itu membahagiakan  karena bersamaan dengan hari ulang tahun Rm. Agustinus Nabu, Pr, selaku Pastor Paroki St. Mikael Webora pada tanggal 20 Oktober 2018. Pada saat itu juga kami sekaligus membentuk Badan Penyelenggara Pendidikan dengan Ketua Umum Aloysius Conzaga Klau, SE selaku Camat Raimanuk.  Hadir dalam kesempatan itu Pastor Paroki, Frater TOP,  Bapak Arnol Bria Sae, dari Kantor Agama Kabupaten Belu, Bapak Heri Lete, Bapak Anis Sae, Kepala Desa Renrua, dan sejumlah tokoh adat dan tokoh masyarakat. Setelah pertemuan itu, berproses pengerjaan proposal. Kami bergerak dalam keterbatasan. Dukungan dari masyarakat mengalir begitu dahsyat, sebagai tanda antusiasme dan kerinduan yang besar akan adanya sebuah SMA di wilayah Kecamatan Raimanuk. Kami berjuang dengan penuh daya hingga  bermalam-malam di Kantor Agama Kabupaten Belu. Bahkan sampai pagi hari berada di sana khusus memperjuangkan kehadiran lembaga pendidikan menegah di wilayah mandeu,” urainya panjang lebar.

            Diceritakan pula, dalam perjalanan urusan konsultasi dan pembenahan administrasi, pada akhir bulan November 2018 Pastor Paroki Santo Mikael Webora dimutasi.

“Ada sedikit keraguan terhadap Pastor Paroki yang baru.  Apakah ia akan terus bersama kami memperjuangkan apa yang sudah kami rintis bersama pastor paroki sebelumnya. Berbekal keyakinan dan cinta yang kuat akan tanah Raimanuk, maka kami bersama Pastor Paroki yang baru tetap melanjutkan perjuangan  menghadirkan SMAK Raimanuk,” ucapnya.

Ia menyambung, tibalah momentum istimewa itu pada tanggal 11 Februari 2019 bertepatan dengan perayaan hari orang sakit sedunia ke 52, YM Mgr. Dr. Dominikus saku, Pr membubuhkan tanda tangan, merekomendasikan pendirian Sekolah Menengah Agama Katolik di wilayah Paroki St. Mikael Webora Kecamatan Raimanuk Kabupaten Belu.

“Syukur kepada Tuhan Yang Maha Bijaksana yang merestui usaha dan niat baik kami. Wilayah Renrua menjadi pilihan dari dua lokasi yang diusulkan kepada Kementerian Agama RI. tentu pilihan ini tepat setelah melalui proses pertimbangan penilaian dan aspek kondisi geografis dan kebutuhan bersama masyarakat Raimanuk dan Gereja Katolik Keuskupan Atambua. Kami menghendaki sekolah yang memiliki visi kemanusiaan. Sekolah yang berlandaskan semangat injil. Sekolah yang mampu membentuk karakter peserta yang militan menghadapi wabah dunia posmodernisme. Dunia dimana segala sesuatu menghendaki pengakuan kebenaran, dunia yang mana tidak ada etika hidup bersama, dunia yang mana isu isu kemanusiaan, religiositas diabaikan begitu saja, dunia yang masih mencari bentuk dalam ketidakteraturannya,”  jelasnya.

Ketua Panitia juga mengungkapkan bahwa, Sekolah Menengah Agama Katolik Santo Agustinus tentu menjadi jawaban atas kegelisahan publik demi kebaikan bersama. Sekolah Menengah agama Katolik menjadi wadah pendidikan nilai yang mampu membongkar ketertinggalan menuju kemajuan, tentu akan menghasilkan manusia-manusia kompoten yang pantas dihormati dan layak dikagumi oleh dunia.

“Badan Penyelenggara Pendidikan dalam refleksi bersama memutuskan bahwa sekolah ini berpelindungkan Santo Agustinus, seorang filsuf dan teolog besar abad pertengahan. Santo Agustinus menjadi spirit dasar untuk merumuskan tentang iman yang mencari pengertian, iman akan yang Ilahi harus dipertanggungjawabkan oleh pemeluknya secara benar dan logis. bahwa Iman akan Allah adalah benar, dan bukan hanya hayalan semata. Santo Agustinus menjadi teladan untuk mencari, menemukan dan membaharui diri dalam keterlibatan akan tugas menggarami dan menerangi dunia dengan Injil,” terangnya.

Badan penyelenggara Pendidikan menghendaki agar terang itu tetap bercahaya di tanah Raimanuk, maka motto sekolah ini adalah “hendaknya terangmu bercahaya”. dan seturut nama dan Filosofi Ema Mandeu, EMA FOHO BOT RAI BOT, BOT WE BOT RAMARA, yang menggaungkan kemegahan kultur, yang menghendaki perubahan dan pembaruan wilayahnya. Sekolah Menengah Agama Katolik Santo Agustinus Raimanuk dengan visinya yaitu menjadikan generasi yang cerdas beriman dan misioner membawa angin kemajuan dalam segi-segi kehidupan bersama.

“Proses pembangunan sekolah ini,  barulah sebuah langkah pertama yang membutuhkan 1000 langkah berikutnya. badan penyelenggara akan membuka penerimaan peserta didik Pada tahun ajaran 2019-2020 namun masih mengalami kendala terkait fasilitas berupa ruang kelas untuk kegiatan belajar mengajar dan gedung asrama putra maupun putri. Atas izin Bapak Bupati Belu proses KBM sementara kami gunakan ruang kelas SMPN Raimanuk. Sedangkan Asrama Putra kami gunakan 2 gedung di lokasi kantor camat dan untuk Asrama Putri akan menempati Asrama Paroki Santo Mikael Webora,” ujar Klau.

Guru – guru Agama Katholik se – Kabupaten Belu

Hari ini tanggal 1 April 2019, bukan hari omong kosong. hari ini adalah momentum bahagia. suatu kehormatan dan bukti sejarah yang akan dicatat dan dikenang oleh anak cucu mandeu bahwa Bapak Dirjen Bimas Katolik Republik Indonesia, Bapak Bupati Belu dan segenap undangan berkenan mengunjungi wilayah kami untuk tujuan pendirian Sekolah Menengah agama Katolik ini

“Harapan kami melalui tangan Bapak Dirjen Bimas Katolik Kementerian Agama RI, beliau bisa mendapatkan Izin operasional untuk bisa di negerikan sebagai hadiah istimewa bagi keuskupan kami sebagai anak dari keuskupan kami. Harapan yang sama pula kami sampaikan kepada Bapak Bupati Belu untuk membantu kami memperlancar urusan sertifikasi tanah yang akan di pakai sebagai pembangunan gedung Sekolah Menengah Agama Katholik St. Agustinus Raimanuk,” pungkasnya. (pkpsetdabelu/Iryanto Tlonaen).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *