Border Tourism, Dongkrak Ekonomi Masyarakat Perbatasan

Pariwisata

Dalam satu kesempatan, Menteri Pariwisata Arief Yahya berbicara soal pariwisata perbatasan atau yang mulai dikenal dengan cross border tourism.

Beliau berujar, bahwa langkah itu dipakai tak hanya ditujukan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), tetapi juga hidupnya roda ekonomi untuk masyarakat sekitar.

“Dengan adanya event ini, bisa dipastikan banyak pedagang yang ambil bagian untuk mencari keuntungan. Dari kerajinan, kuliner, hingga kebutuhan lain. Wisman datang menonton dan belanja. Artinya, ada perputaran ekonomi secara langsung di sini,” ujarnya.

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) siap menggelar Konser Musik Perbatasan Atambua (KMPA) 2019 di Lapangan Umum Simpang Lima, Kota Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 8-9 Maret 2019.

Grup band d’Masiv dan penyanyi dangdut asal Timor Leste, Gerson Oliveira akan menjadi bintang utama acara itu. Kemenpar pun optimis dengan hadirnya dua musisi ini akan bisa menarik 2000 wisatawan asal Timor Leste untuk datang berkunjung ke Atambua.

Asal tahu saja, terpilihnya dua idola tersebut dihasilkan dari survei online dan offline yang telah dilakukan Kemenpar yang bekerja sama dengan Et Cetera Promosindo. Survei ini menyatakan bahwa kedua musisi tersebut memiliki elektabilitas tinggi.

“Penunjukan d’Masiv dan Gerson Oliveira untuk KMPA 2019 edisi Maret sangat kompetitif. Keduanya ini memiliki basic penggemar besar. Masyarakat perbatasan baik itu di Timor Leste dan NTT juga sangat menantikan kehadiran mereka,” ungkap Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani.

Sebagai informasi, survei offline dilakukan pada 9-10 Februari 2019 dengan jumlah responden 91 orang. Adapun lokasi offline survei dilakukan di beberapa spot di NTT seperti Wini, Mota’ain, dan Motamasin, sedangkan survei offline di Timor Leste dipusatkan di Kota Dili.

Berstatus sebagai big three dalam survei, d’Masiv memiliki suara 27 persen dari kanal musisi favorit Indonesia. Angka ini terpaut 5 persen dari Geisha di posisi pertama. Lalu, posisi ketiga ditempati oleh Mitha Talahatu dengan elektabilitas 13 persen.

Di lain sisi, survei yang dilakukan di Timor Leste menempatkan Gerson Oliveira di peringkat ketiga dengan elektabilitas 16 persen. Penyanyi dangdut asal Timor Leste ini terpaut sebesar 11 persen dari Marvi di urutan pertama dan 8 persen dari Galaxy/Cidalya.

Selain itu, adapula survei online yang memakai google form sebagai angketnya. Berbeda dengan survei offline, survei online ini digelar pada 5-6 Februari 2019 dengan jumlah responden 110 orang.

Kemudian, dari sisi survei online yang dipilih oleh masyarakat Timor Leste menempatkan tiga musisi lokal ternama, yakni Maria Vitoria (28 persen), Cidalia (20 persen), dan Gerson Oliveira (18 persen).

“Kami tetap akan menampilkan musisi sesuai keinginan publik. Namun, untuk komposisi kali ini ada d’Masiv dan Gerson yang ditampilkan. Untuk performa Geisha, Marvi, atau lainnya silahkan ditunggu saja. Sebab, KMPA 2019 selalu memberikan kejutan,” lanjut Rizki.

d’Masiv adalah grup band besar dengan total sembilan album terbaik. Rian Ekky Pradipta dan kawan-kawan juga akan menyajikan banyak lagu hits di Atambua nanti, sebut saja Apa Salahku, Ingin Lekas Memelukmu Lagi, hingga Cinta ini Membunuhmu.

Kemudian Gerson Oliveira. Mungkin warga Timor Leste sudah akrab dengan penyanyi ini mengingat Gerson merupakan salah satu jebolan dari program Dangdut Academy Asia 2 milik Indosiar yang cukup berprestasi.

“Kami sangat optimistis kehadiran d’Masiv dan Gerson akan menaikan arus masuk wisman. Mereka ini selalu ditunggu penampilannya. Siapapun yang dipasangkan akan optimal. Sebab, keduanya ini adalah favorit. Mereka memiliki fans yang kuat,” papar Ricky.

“KMPA 2019 juga menampilkan Band Competition. Kompetisi ini untuk mengakomodasi talenta-talenta berbakat di sekitar pintu perbatasan. Band Competition ini akan melengkapi performa Gerson di hari pertama festival.

Untuk Band Competition, Kemenpar menawarkan hadiah dengan total Rp 20 juta. Sang juara dari kompetisi ini akan mendapatkan hadiah sebesar Rp 6 juta dan runner up sebesar Rp 4 juta.

Adapun persayaratan pendaftaran kompetisi ini, yakni band harus diikuti minimal 5 orang. Untuk kategori youth, maksimal peserta harus berusia 17 tahun. Lalu, bagi peserta dewasa harus memiliki rentang usia 18-35 tahun.

“Siapapun musisi yang ditampilkan adalah yang terbaik. Dalam arti, memang digemari oleh masyarakat di perbatasan.

Tujuannya, agar kehadiran mereka bisa memberikan kegembiraan secara maksimal,” pungkas Menteri Pariwisata Arief Yahya.(GenpiAtambua/pkpsetdabelu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *