BUPATI BELU MINTA BAHASA TETUN MASUK MULOK

Ekonomi Pembangunan Pendidikan & Sosbud

ATAMBUA, Bupati Belu Willybrodus Lay, SH meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Mendikbud RI), Muhadjir Effendy  agar memasukan Bahasa Tetun sebagai  mata pelajaran tambahan  (Mulok) dalam kurikulum pembelajaran di sekolah-sekolah yang berada di wilayah perbatasan RI-RDTL, Kabupaten Belu.

“Ada banyak sekali suku dan bahasa daerah di Kabupaten Belu. Salah satu yang dipakai itu Bahasa Tetun. Bahasa Tetun ini juga dipakai di negara tetangga kita, Timor Leste. Kalau bisa Pak Menteri, bahasa tetun ini juga boleh dimuat dalam muatan lokal pada  pendidikan dasar,” ungkap Bupati Willy saat  Acara Kunjungan Mendikbud RI, di SMAN 1 Atambua, Tenubot, Kecamatan Kota Atambua, Kabupaten Belu, Rabu (24/4/2019).

Permintaan Bupati Belu itu beralasan, mengingat siswa-siswa baik sekolah dasar hingga sekolah menengah atas di daerah ini  tidak  lagi  mengenal bahasa tetun sebagai unsur nilai-nilai sosial budaya dilingkungan mereka berada. Menurutnya, jika bahasa tetun termuat dalam kurikulum muatan lokal akan menunjang para siswa-siswi untuk mengembangkan ketrampilan fungsional serta menumbuhkan kepedulian terhadap masalah-masalah lingkungan.

“Di Kota ini banyak sekali anak – anak yang sudah tidak mengerti bahasa tetun. Negara tetangga kita, Timor Leste juga pakai bahasa tetun dan saat berkunjung ke Belu banyak yang tidak mengerti saat berkomunikasi, alasannya  karena tidak tahu berbahasa tetun,” ujar Bupati.

Pada kesempatan itu, Bupati Belu juga memperkenalkan Tarian Likurai  kepada Mendikbud Effendy bersama rombongan. Ia menjelaskan, tarian budaya Belu yang sering dipertontonkan dalam setiap acara penyambutan tamu di daerah ini telah di brand dalam kegiatan tahun yang dikenal dengan nama Festival Fulan Fehan

“Berkat festival ini, kita diundang untuk ikut menampilkan Tarian Likurai dalam Opening Ceremony Asian Games 2018. Tarian ini juga akan kita pertontonkan usai Upacara Bendera 17 Agustus di Istana Negara,” ucapnya.

Permintaan lain yang dikemukakan Bupati Belu adalah terkait animo masyarakat Belu untuk memiliki Sekolah Vokasi untuk mencetak  sumber daya manusia (SDM) terampil dan siap kerja.

“Terima kasih atas perhatian terhadap pendidikan yang begitu luar biasa, walaupun kami jauh dari Jakarta tetapi kami sangat merasakan  perhatian Pak Menteri terhadap dunia pendidikan di wilayah Kabupaten Belu. Ada satu permintaan dari masyarakat, kalau boleh ada lagi satu sekolah vokasi atau sekolah lapang untuk memperkuat sumber daya manusia disini. Melalui Pendidikan Vokasi, wujud implementasi Revolusi Mental yang dicanangkan Presiden RI dapat terlaksana sebagai gerakan  membangun SDM  yang berkompeten di daerah perbatasan  guna memacu produktivitas  dan daya saing,”  jelasnya.

Bupati Willy menambah,  terdapat banyak tamatan – tamatan SMA atau SMK yang tidak tidak mau melanjutkan ke  jenjang pendidikan yang lebih tinggi karena alasan ekonomi.

“Kalau ada pendidikan vokasi, mereka boleh belajar disitu sehingga keterampilan-keterampilan itu dapat mereka peroleh. Banyak anak – anak kita mencari kerja di tempat lain dengan skill yang sangat minim. Pendidikan  yang berorientasi industri ini, kita yakin turut menekan angka Human Trafficking di NTT. Mohon kiranya Pak Menteri bisa mempertimbangkan salah satu sekolah vokasi di Kabupaten Belu dan Pemerintah  Daerah bersedia mempersiapkan lahan seluas kurang lebih 40 hektar  are untuk pembangunan sekolah ini,” tandasnya. (Pkpsetdabelu/Reynaldo Klau)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *