BUPATI BELU : SAPI BETINA DILARANG DI POTONG

Ekonomi Pembangunan Kesehatan Pendidikan & Sosbud

ATAMBUA,  Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, pertumbuhan ekonomi, dan daya beli masyarakat yang semakin membaik, maka kebutuhan konsumsi protein hewani terutama daging sapi pun ikut meningkat. Hal ini memacu pemerintah untuk terus berupaya meningkatkan produksi dan produktivitas ternak sapi.

Dalam aspek yang lain pemerintah pun berkewajiban, menjamin ketersediaan bibit ternak sapi dan mencegah berkurangnya ternak sapi betina produktif yang dikeluarkan oleh masyarakat. Namun dalam kenyataannya, pemotongan sapi betina produktif masih tetap terjadi. Ini tentunya sangat mengkhawatirkan di dalam sektor peternakan, khususnya sapi potong.

“Pada tahun 90an produksi sapi mulai menurun. Dahulu, merujuk data statistik, setiap minggu bisa mengirim ribuan ternak sapi. Sekarang sekali kirim hanya dua sampai tiga ratusan ekor, itupun digabung dengan TTU dan Soe,” ungkap Bupati Belu, Willybrodus Lay,SH dalam  kegiatan Rapat Koordinasi Pembangunan Peternakan tahun 2019 bersama Para Camat, Lurah, dan Kepala Desa se-Kabupaten Belu di Gedung Wanita Betelalenok Atambua, Jumat (1/11/2019).

Sapi betina merupakan aset yang seharusnya dijaga, agar tetap bereproduksi sehingga mencukupi kebutuhan pangan hewani di Belu.

“Oleh karena itu, sapi betina dilarang untuk di potong. Disamping itu, pemotongan sapi betina berpengaruh juga terhadap jumlah akseptor sapi yang akan dikawin suntik dan mengurangi potensi sapi bunting,” jelasnya.

Dikatakan pula, sekitar tahun 80-an  hingga 90-an, terjadi swasembada pangan, dimana banyak padang pengembalaan diolah menjadi sawah, sehingga padang pengembalaan pun berkurang hingga saat ini.

“Sebelumnya kita sukses dengan peternakan, namun setelah itu kita pindah ke industri lain dan meninggalkan yang sukses ini, padahal untuk sawah kita butuh air, pupuk, traktor dan lainnya. Dan saat membuat sawah air tidak ada kita menyalahkan Tuhan, padahal kita tidak cermat terhadap kondisi lingkungan yang ada,” ujar Bupati Lay.

Pada kesempatan itu, Bupati Willy mengutarakan pengalaman bersama Tuan Berrend saat dirinya berada di Belanda. Ia mengaku takjub dengan para peternak di negeri kincir angin tersebut.

“Waktu saya dan Tuan Berrend berkeliling di desa-desa di belanda, terlihat semua yang punya ternak memiliki mobil. Saya terheran-heran, setelah membandingkan dengan para peternak disini yang hidup belum berkecukupan. Di Eropa itu ada 4 musim, dan musim salju dan musim panas bisa sampai 40 derajat celcius namun bagaimana peternakannya bisa sukses sedangkan rumput mati, dan mereka menyiapkan makanan untuk disimpan dan diawetkan saat makanan ternak berlimpah dimusim hujan. Sementara pada saat musim salju dan panas, makanan tersebut mereka gunakan sebagai pakan ternak,” terang Bupati Lay.

Sebagai peneliti peternakan dan memiliki segudang pengalaman  dalam pengawetan makanan ternak inilah, yang membuat Tuan Berren hadir bersama kita disini.

“Tuan Berren sudah datang yang ketiga kali. Datang pertama dan kedua, yakni ingin membuat silase dan sekarang telah dilakukan di Sonis Laloran dan di SVD. Pengetahuan yang dimiliki Tuan Berrend membuat saya paham, bahwa membuat silase  berapa ton pun bisa, yang penting alatnya memadai,” tukasnya.

Semoga kedatangan Mr. Berrend Jan Stoel dari PUM Netherlands Senior Expert yang ketiga kali  ini, dapat merubah paradigma dan cara berpikir kita kedepannya.

“Terima kasih Tuan Berren yang datang membawa berkat untuk kami di Belu. Terima kasih sudah mau membantu kami di Belu,” ucap Bupati Willy.

Mr. Berrend Jan Stoel dari PUM Netherlands Senior Expert, seorang Peneliti peternakan dan juga Pengusaha ternak asal Belanda yang diundang Bupati Belu untuk membantu mencari solusi terkait masalah Peternakan di Belu mengatakan, musim  kemarau yang panjang di Belu sama halnya dengan di Belanda.

“Karena saat musim Timur di Belanda tidak terdapat apa – apa untuk pakan ternak, sehingga silase sangat bermanfaat dan ini sudah dilakukan sejak dulu di Belanda,” katanya.

Untuk diketahui, PUM Netherlands Senior Expert atau Pakar Senior Belanda PUM adalah organisasi Sukarela yang berkomitmen untuk pengembangan berkelanjutan usaha kecil dan menengah di negara – negara berkembang dan pasar negara berkembang.(Pkpsetdabelu/Reynaldo Klau)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *