CATATAN PERJALANAN : MENGAGUMI KEINDAHAN LEMBAH FULAN FEHAN

Pariwisata

ATAMBUA, Minggu siang, 27 Oktober  2016, sekitar pukul 12. 00 wita, saya bersama Kasubag Stefantje Bele Bau (Kasubag Komunikasi Publik), Dobrito Seran (Kasubag Acara), Mick, Aldo dan Nus bergegas menuju ke Padang Sabana Fulan Fehan, di sekitar perkampungan Desa Dirun,  Kecamatan Lamaknen Selatan, Kabupaten Belu, Timor – NTT.  Menggunakan “Panther” dari Kota Atambua, kami melewati perkampungan Takirin dan terus melaju melewati Desa Maudemu ke hamparan Padang Sabana Fulan Fehan.

Setelah melewati perkampungan itu, kami terus mendaki jalan raya yang baru diaspal dengan melewati pinggir bukit yang ditumbuhi pepohonan. Setelah mengabadikan sejumlah foto dengan kamera, kami terus bergegas menuju sebuah tempat, yang disana ada ribuan penari likurai dan antama yang bersiap diri untuk berlatih.

Semobil bersama dua kasubag Bagian Protokol dan Komunikasi Publik Setda Belu ini sangat mengasyikan. Bercanda, bergurau dan tertawa lepas. Dua fotografer kawakan Belu, ikut terpingkal-pingkal mendengar ocehan dua pimpinan kami. 

Turun dari mobil,  kami berhenti sejenak untuk menikmati keindahan alam lembah Fulan Fehan,  sambil melihat  warga yang  berjejel dagangan di punggung bukit dekat lokasi acara. Padang Sabana nan luas ini adalah satu-satunya di Pulau Timor dengan tumbuhan kaktus diatasnya.

Tidak jauh dari tempat kami berdiri,  ada sekelompok pemuda dan pemudi yang duduk bergerombol. Ada yang menggunakan selendang,  menutupi kepala dari sengatan terik panas matahari. Kelompok muda-mudi ini sudah berada di Fulan Fehan sejak pagi tadi bersama ribuan warga lainnya. Mereka berada di tempat itu untuk  berlatih, menyongsong puncak acara, pada besok, Senin, 28 Oktober 2019.

Lokasi pelaksanaan Festival Fulan Fehan ke-3 kali ini di desain dengan latar belakang Gunung Lakaan. Tamu undangan dapat menyaksikan atraksi para penari, sekaligus pemandangan Puncak Gunung Lakaan dan puluhan bukit yang berjejar rapi sepanjang pinggiran hamparan itu.

Sejumlah pengunjung domestik terlihat membawa serta anak-anak serta sanak-saudara serta kerabat untuk menikmati keindahan Padang Sabana Fulan Fehan. Bahkan, Padang Sabana itu sangat bagus untuk anak-anak muda untuk melepaskan kepenatan hidup dari kebisingan perkotaan.

Sesungguhnya Fulan Fehan merupakan sebuah lembah yang di kaki gunung lakaan dengan sabana yang sangat luas. Lembah ini berada di Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, sekitar 26 km dari Atambua, Ibu Kota Kabupaten Belu. Potensi yang dimiliki lembah Fulan Fehan adalah banyak terdapat kuda yang bebas berkeliaran, pohon kaktus yang tumbuh subur dan hamparan padang sabana yang luasnya tak terjangkau oleh mata.

Salah seorang warga Tiles yang baru pertama kali datang di tempat itu  mengaku,  ketika memasuki padang sabana, dirinya terkagum dan terkejut dengan pemandangan Padang Sabana Fulan Fehan yang terluas di daratan Timor ini.

Ia mengatakan, berjalan menuju ke pertengahan padang, ibarat seperti masih berada di pinggiran padang. Masih sangat luas untuk menjangkaunya. Maunya satu atau dua hari menyusuri Padang Sabana Fulan Fehan sambil melihat keindahan-keindahan dan berinteraksi dengan pengembala sapi dan kuda di tempat tersebut.

Jalan menuju ke Padang Sabana Fulan Fehan  memberikan kemudahan kepada warga masyarakat yang ingin berwisata dan menikmati pemandangan padang yang terluas di Belu ini.

Pemandangan lain yang berada di hamparan padang tersebut,  kita dapat menyaksikan keindahan Gunung Lakaan yang menjulang tinggi dan bukit batu Maudemu yang diatas puncaknya terdapat beberapa peninggalan bersejarah berupa kuburan-kuburan bangsa melus.

Kalau lebih jauh kita berwisata ke Fulan Fehan , kita dapat melihat objek bersejarah yang menjadi satu kesatuan paket yang mendukung pesona dan daya Tarik bagi wisatawan, seperti Benteng Ranu Hitu atau Benteng Lapis Tujuh di puncak Bukit Makes. Diujung Timur Lembah ini ada situs bersejarah “Kikit Gewen” yang berupa kuburan tua yang sangat sakral. Tidak jauh dari lembah ini, ada Air Terjun Sihata Mauhale di Desa Aitoun serta Air Terjun Lesu Til di Weluli.

Kalau Anda memiliki waktu luang, buatlah jadwal untuk berkunjung ke Padang Sabana Fulan Fehan. Ia cantik dan misterius, ibarat sekeping surga, demikian kata orang yang pernah menjamah lembah ini. Untuk mencapai tempat ini, ada dua jalur alternatif yaitu melewati perkampungan Desa Maudemu dan Desa Dirun. Pengunjung bisa menuju Lembah Fulan Fehan dengan kendaraan bermotor.

Kita tinggalkan sejenak perjalanan kami. Sebelum menuju puncak pelaksanaan Festival Fulan Fehan Ke-3, yang dilaksanakan di Lembah Fulan Fehan, telah digelar sejumlah kegiatan seperti : FIESTA TIMORESIA (Opening Bazzar Kuliner dan Kerajinan Lokal,  Fulan Fehan Adventure, Ritual Bei Gege Asu-Dirun, Display Marching Band, Golden Memory Fiesta dan Kompetisi Dansa Medley).

Kegiatan BELU BERAKSI (Belu Ethno Zumba, Fun Walk “Against Plastic”, Sport Show (Atraksi Jawara Belu), Fulan Fehan 10K, Senam Meraih Bintang 1.000 Pelajar, Student Fashion Show dan Atambua Community Show).

Kegiatan BELU COLOUR CREATION (Lomba Mewarnai dan Literasi Anak, Atambua Ethno Carnaval, Pentas Seni Etnis, Fashion Show Tenun Ikat Belu (Tenun Ikat Pewarna Alami) dan Pesta Rakyat (Free Kuliner).

Festival Fulan Fehan Ke-3 kali ini menyajikan Tema : MUSIKAL RAI BELU. tema ini dipilih,  mengingat unsur budaya masyarakat yang mengandung nilai kerja sama, ramah tamah, saling menghargai, saling berinteraksi, persatuan dan kesatuan. perpaduan nilai-nilai budaya itu, berkolaborasi lewat kemasan syair, gerak dan tarian.

Festival Fulan Fehan Ke-3 juga mengangkat ritual dan tradisi adat Lamaknen, Antama (tarian berburu), Inel Hegeseq (ritual memanggil hujan), Bisobin Kali (tabur benih), Tei Ipi Lete (ritul injak padi), yang dipadukan dengan Tarian Kolosal Likurai, Bidu Kikit, Suling Bambu dan Tari Angina.

Garapan tari “MUSIKAL RAI BELU” ini merupakan hasil kerja sama dari Pemerintah Kabupaten Belu, Institut Seni Indonesia Surakarta dan seluruh masyarakat Belu. Drama musikal yang menggabungkan lagu, dialog ucapan, akting dan tarian ini masih dikemas oleh koreografi ternama EKO SUPRIYANTO.  Pelaksanaan Festival Fulan Fehan ke -3 ini, hadir pula penyanyi ternama, KAKA SLANK. 

PENDAPATAN WARGA IKUT BERGAIRAH

Albertus Philipus Duli Kusa, warga Dusun Weluli, Desa Dirun Kecamatan Lamaknen, Minggu (27/10/2019) menuturkan, dirinya sangat senang dengan pelaksanaan kegiatan Festival di Fulan Fehan. Menurutnya, selama persiapan hingga pelaksanaan puncak festival, dagangannya selalu laris terjual. Ia mengaku, sebelumnya  hanya memperoleh 100 ribu rupiah per hari,  meningkat drastis  menjadi 1 juta rupiah hingga 2 juta rupiah per hari.

“Saya mau minta terima kasih kepada Bapak Bupati Belu dan seluruh jajaran yang sudah menyelenggarakan kegiatan Festival Fulan Fehan dari yang pertama hingga yang ketiga kalinya. Kegiatan ini sangat membantu masyarakat sekitar, khusunya di Desa Dirun. Kami sangat bersyukur dan berterima kasih,” katanya.

Ia berharap, kegiatan ini dapat terus terlaksana hingga ke anak cucu, karena sudah memberi keuntungan kepada kami warga di Lamaknen.

“Kami senang, karena kegiatan ini membuat warga disini mendapat keuntungan yang berlipat ganda,” aku Philipus.

Warga Desa Dirun Lainnya, Lorens Mali, pedagang kelapa muda dan sayuran itu, berharap  kepada Pemerintah Kabupaten Belu agar tetap melanjutkan kegiatan ini. Harapan Lorens adalah, Ia bersama warga desa di Kecamatan Lamaknen dapat terus berjualan di tempat ini dan memperoleh uang.

“Saya jual disini sejak pelaksanaan Fulan Fehan pertama. Dari hasil penjualan kelapa dan sayuran, saya banyak mendapatkan keuntungan. Terus terang, kegiatan ini sangat membantu kami warga disini,” katanya.

Setelah berbincang-bincang dengan pengunjung, kami terus menyusuri padang luas itu untuk melihat  aktifitas warga lain yang ada disitu. Kami juga melihat sekelompok wisatawan domestik sedang berbelanja kuliner bersama keluarga dan kerabat.

Kami sangat kagum dengan keindahan alam yang diberikan Sang Pencipta bagi warga Desa Dirun. Ditempat ini, wisatawan dapat menikmati keindahan alam disekitar, sekaligus menikmati aktivitas warga masyarakat yang mengembalakan sapi dan kuda.

Lebih dari itu, patut kita bangga sebagai warga Belu, sebab pasca pelaksanaan Festival Fulan Fehan ke -1 dan Fesival Fulan Fehan ke-2,  Tarian Likurai kembali mendapat kehormatan untuk tampil pada Open Ceremony Asian Games di Gelora Bung Karno Jakarta pada tanggal 18 Agustus 2018 lalu. Satu tahun kemudian, tepatnya tanggal 17 Agustus 2019, Tari Likurai dan Antama kembali ditampilkan di Istana Negara dan disaksikan langsung oleh Presiden RI dan Wakil Presiden RI, para Menteri Kabinet Indonesia Kerja, bersama tamu-tamu negara. (Pkpsetdabelu/Michello/Reynaldo/Trebor).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *