IB PADA RUMAH SINGGAH TERNAK DAPAT TINGKATKAN POPULASI DAN PRODUKSI TERNAK SAPI

Ekonomi Pembangunan

TASIFETO BARAT, Upaya percepatan peningkatan populasi dan produksi ternak sapi di Kabupaten Belu terus di genjot. Penerapan teknologi tepat guna ini menjadi pilihan peserta Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Tingkat Tiga (Diklat PIM III) Angkatan XXIX Provinsi Nusa Tenggara Timur, Ade Wahyuni, S.Pt, MM selaku Kepala Bidang Perbibitan dan Produksi pada Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Belu.

Ade Wahyuni meluncurkan “ Inisiasi Model Rumah Singgah Sapi Betina Produktif (Cows Shelter) Dalam Rangka Peningkatan Kualitas Ternak Sapi Di Kabupaten Belu” .

“Rumah singgah ternak (Cows Shelter) adalah kandang tampung ternak yang dapat digunakan sebagai wadah untuk melakukan paket Inseminasi Buatan (IB) secara tersistim. Kita harapkan IB dapat meningkatkan kebuntingan ternak dan kelahiran sebagai upaya meningkatkan kualitas ternak sapi,” ungkap Ade saat Launching Proyek Perubahan PIM III di Sonis Laloran, Desa Bakustulama, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Senin (1/7/2019).

Rumah singgah ternak, jelas Ade berada di lokasi Kawasan Peternakan Sonis Laloran, Desa Bakustulama, Kecamatan Tasifeto Barat Kabupaten Belu, rumah singgah ini dapat menampung 36 ekor sapi betina, namun untuk tahap awal proyek perubahan akan dilayani sebanyak 10 ekor ternak sapi.

“Rumah singgah ini dilengkapi dengan pos jaga, Silo (wadah pengawet pakan), rumah pakan, dekat dengan sumber air,  terdapat satu Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan), jarak dari ibukota kabupaten ±15 km,” ungkapnya.

Ade menuturkan, Sistim peternakan di Kabupaten Belu masih bersifat semi intensif yaitu pagi digembalakan dan sore hari di masukan dalam kandang, petani peternak masih bersifat polyfalen belum berorientasi bisnis/pada skala usaha, sehingga dapat mempengaruhi perhatian pada tatalaksana pemeliharaan ternak secara baik dan benar, yang dapat berpengaruh pada  kualitas dan kuantitas ternak.

“Kondisi peternakan sapi di Kabupaten Belu saat ini mengalami penurunan kualitas yang ditandai dengan rata-rata berat lahir pedet dibawah 15 kg,  istilah saat ini “kakaknya kambing” yang disebabkan salah satunya adalah karena inbreeding/perkawinan sedarah. Berangkat dari kondisi ini upaya yang dilakukan oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Belu melalui program peningkatan produksi dan produktivitas ternak yaitu Inseminasi Buatan,” jelasnya.

Menyinggung kendala Inseminasi Buatan saat ini, Ade Wahyuni mengaku petani masih enggan mengikat ternaknya dan masih banyak alasan sulit mencari pakan.

“Oleh sebab itu kami berinovasi dengan menginisiasi model rumah singgah sapi betina produktif  sebagai satu investasi sosial yang merupakan solusi dalam upaya percepatan meningkatkan pelayanan IB pada ternak sapi untuk mendapatkan prosentase kebuntingan dan kelahiran IB yang lebih baik dari  yang selama ini,” katanya.

Maksud dari kegiatan ini, menurut Ade adalah untuk  memperkenalkan kepada petani ternak dan masyarakat akan pentingnya rumah singgah ternak sebagai percepatan peningkatan kualitas ternak di Kabupaten Belu dan upaya percepatan pembangunan peternakan.

“Selain itu sebagai ajang sosialisasi model rumah singgah ternak yang diharapkan ada replikasi rumah ternak, ” tandasnya.

Kondisi yang diharapkan adalah peternakan di Kabupaten Belu ini menjadi lebih baik dan memiliki kualitas yang lebih baik.

“Over goal dari inisiasi ini adalah meningkatkan kualitas nilai jual ternak di Kabupaten Belu,” katanya.

 Ikut hadir Wakil Bupati Belu, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Belu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Belu, Kepala Desa Bakustulama, Kepala Desa Derokfaturene, Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat dan para Ketua Kelompok Ternak Sapi. (Pkpksetdabelu/Reynaldo/Trebor).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *