ISU STUNTING “MENGEMUKA’ DI PENCANANGAN BBGRM KE-16

Ekonomi Pembangunan

TASIFETO BARAT, Kasus gagal tumbuh pada anak karena kekurangan gizi atau stunting di Indonesia dinilai cukup mengkhawatirkan. Bahaya dampak stunting dan ancaman terhadap masa depan generasi muda serta bangsa, membuat pemerintah terus menggalakkan upaya pencegahan kasus stunting. Salah satu yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Belu melalui  instansi-instansi terkait adalah menggencarkan sosialisasi stunting.

Pada pencanangan BBGRM XVI dan HKG PKK ke 47 yang berlangsung di Desa Derokfaturene, Kecamatan Tasifeto, Kabupaten Belu, Bupati Belu Willybrodus Lay, SH mengatakan, stunting telah menjadi isu nasional saat ini

“Saya dan semua stakeholder yang hadir, tentunya setuju bahwa kita harus bersama-sama melakukan sesuatu, memberikan pikiran, bergotong royong untuk bagaimana menangani stunting  di daerah ini,” katanya.

Bupati Lay membeberkan bahwa data stunting di Kabupaten Belu pada tahun 2013 mencapai 46,8 % dan berangsur turun menjadi 3-5 % pada tahun 2017.

“Selama kurun waktu 4 tahun stunting  hanya turun 8,2 %, artinya 1 tahun hanya 2,5 %. Saya menghimbau kepada seluruh masyarakat, kalau bisa angka penurunan stunting itu 1 tahun mencapai 3-5 %. Kita butuh kerja luar biasa untuk menghasilkan hasil yang luar biasa, terutama bagi kita semua yang hadir di tempat ini,” ujar Bupati Willy.

Dijelaskan bahwa. salah satu penyebab stunting adalah saat bayi masih didalam janin, sampai lahir dan tumbuh. Hal tersebut perlu asupan gizi. 

“Jika stunting bisa diatasi kita akan mendapatkan manusia Indonesia khususnya masyarakat Belu yang berkualitas. Untuk mendapatkan masyarakat yang berkualitas itu perlu kerjasama dan gotong royong,” tandasnya.

Menyinggung masalah air bersih, Bupati Lay menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Kabupaten Belu, dimana Belu masih termasuk dalam daftar kabupaten yang rawan kekeringan.

“Untuk Kota Atambua, sumber mata air yang diambil dari 3 sumber mata air di We Matan (Tirta) tetapi sudah kering. Sementara dari Lahurus ada sumber mata air We Oe dan Molas Oan. Untuk We Oe dan Molas Oan sementara dibangun konstruksinya, diharapkan bulan Desember sudah selesai. Saya mengharapkan, agar jika masih ada lagi sumber mata air yang belum, dikelola, pemerintah siap mengelola untuk dimanfaatkan,” imbau Bupati Willy.

Pada kesempatan itu juga, Bupati mengajak masyarakat untuk bersama bergotong royong memerangi sampah plastik. Masyarakat juga diminta agar menjadikan sektor peternakan sebagai sumber pendapatan utama dengan  memelihara ternak sapi, ayam, kambing dan babi.

Usai pencanangan BBGRM XVI dan peringatan HKG PKK ke 47, Bupati Belu bersama Wakil Bupati Belu, Forkopimda Plus melakukan penanaman anakan sengon, mangga dan mahoni di halaman kantor desa dan penebaran 1500 ekor bibit ikan nila di Embung Desa serta peninjauan stand pameran ekonomi kreatif yang memamerkan hasil kerajinan dan pangan lokal dari 12 kecamatan. (Pkpsetdabelu/Michael Tae).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *