MAEK BAKO’ VIRAL DI AJANG RAKERDA KKBKP

Kesehatan

ATAMBUA, ‘Maek Bako’ menjadi viral diajang Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) Tingkat Provinsi NTT yang dilaksanakan di Ballroom Hotel Matahari, Atambua. Rabu, (20/3/2019). Bupati Belu Willybrodus Lay, SH  memperkenalkannya kepada peserta Rakerda se – NTT saat mewakili Gubernur NTT Victor B. Laiskodat, SH membuka kegiatan rakerda tersebut.

Maek Bako yang biasa disebut porang atau iles-iles merupakan salah satu program unggulan Bupati-Wakil Bupati Belu dalam upaya percepatan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan taraf hidup para petani di desa.

Bupati Lay mengatakan,  Kabupaten Belu hampir 90 persen masyarakat adalah petani dan peternak. Menjadi menarik adalah pendapatan dari masyarakat Kabupaten Belu dari sektor pertanian dan peternakan hanya 30 persen,  dan 60 persen lainnya dari sektor jasa. Hal itu terjadi, karena petani dan peternak hanya memiliki luas lahan kurang lebih 3.000-4.000 meter persegi.

“Jika luas lahan seperti ini ditanami jagung dan padi, hanya cukup untuk bertahan hidup 3 bulan saja dan kondisi seperti ini jika terus dibiarkan, persoalan kemiskinan tidak bisa teratasi,” ungkapnya.

Mengantisipasi situasi ini, Pemerintah Kabupaten Belu mencoba terobosan baru peningkatan ekonomi masyarakat melalui program budidaya tanaman maek bako.

“Kita harapkan terobosan ini mampu mengatasi  persoalan kemiskinan yang ada di NTT dan Kabupaten Belu khususnya,” ucap Bupati Willy.

Gubernur NTT diwakili Bupati Belu, Willybrodus Lay menabuh gong sebagai tanda dibukanya Rakerda KKBPK di Ballroom Hotel Matahari Atambua, Rabu, (20/3/2019)

Bupati menjelaskan, program unggulan desa melalui budidaya porang/maek bako  akan mengatasi dan membantu ekonomi masyarakat.

“Setiap desa, saya wajibkan untuk tanam porang. Mungkin bagi kita sekalian banyak yang belum tahu porang. Porang adalah sejenis umbi-umbian dalam bahasa tetun disebut maek bako. Porang kalau kita tanam dan umbinya kita panen hasil perkilo kering/cheps 50 ribu sedangkan jagung 1 kilo 5 ribu jadi 1 kilo porang bisa membeli 10 kg jagung,” jelasnya.

Bupati Willy menghimbau, semoga pelaksanaan program budidaya tanaman maek bako di wilayah RI-RDTL ini, menjadi inspirasi baru bagi kita semua untuk sama-sama mengatasi kemiskinan di NTT. (pkpsetdabelu).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *