MEREKA MENYEMBUL DARI BALIK BUKIT (Tulisan Keenam Dari Catatan Yang Tertinggal : Menagih Rindu Di Lembah Fulan Fehan)

Pariwisata

Panggungpun demikian adanya, di biar polos dengan padang rumput yang sudah menguning. Warna-warna kain adat yang dikenakan para penari menyempurnakan penampakan panggung utama event ini. Para pengunjung juga ikut mewarnai nuansa budaya di pagelaran ini. Banyak di antara mereka yang hadir menggunakan pakaian adat.

Akhirnya, yang ditunggu-tunggu pun muncul. Drama Musical Rai Belu diawali dengan kemunculan satu adegan, seorang pria dan wanita mengenakan busana adat muncul dari balik bukit. Selang beberapa menit, ikut pula ratusan penari  yang bergerak mengelilingi kedua pasangan itu.

Disana,  mereka berpantun, memainkan musik yang magis dari tiupan seruling bambu. Ada dirigen yang mengatur ritme bak orchestra di lembah Fulan Fehan. Alunan musik seruling bambu berhasil menyihir penonton untuk tidak mengalihkan pandangan dari setiap gerakan penari.

Sempat dalam satu segmen, muncul peragaan busana adat Timor yang dipertunjukkan oleh puluhan laki-laki dan perempuan. Lalu ada adegan seperti peperangan, dimana  ratusan laki-laki bersenjatakan tombak terus bergerak dengan iringan musik.

DCIM\100MEDIA\DJI_0024.JPG
DCIM\100MEDIA\DJI_0035.JPG
DCIM\100MEDIA\DJI_0038.JPG

Mereka beradu tarian dengan gerakan-gerakan yang mempesona. Gemuruh musik yang mengiringi, semakin menambah romantisme gemulai para penari. Atraksi Tarian Kolosal Ukur Naraa dari 1500 penari asal Belu dan 77 penari asal Timor Leste di Fulan Fehan, merupakan hari yang tak terlupakan keindahannya. Kita pun tak sabar menunggu festival ini tahun depan.

Keseluruhan tari kolosal ini berlangsung sekitar satu jam. Penonton terus dihipnotis dengan gerakan tarian yang dinamis, music yang magis dan mata dimanjakan dengan motif-motif kain tenun yang berwarna-warni. Semuanya terlihat cantik dan eksotis.

Festival Fulan Fehan ke-3 tahun ini mengangkat  ritual dan tradisi adat lamaknen ; Antama (Tarian Berburu), Ritual Unel Hegeseq (Ritual Memanggil Hujan), Ritual Bisobon Kali (Tabur Benih) dan Ritual Tei Ipi Lete (Ritual Injak Padi) dengan dipadukan bersama Tarian Kolosal Likurai, Bidu Kikit, Suling Bambu dan Tari Angina.

Hari yang indah, terima kasih Bupati Belu Willybrodus Lay, SH dan Wakil Bupati Belu, Drs. J. T. Ose Luan. Terima kasih untuk semua Panitia Festival Fehan Ke-3 tahun 2019 untuk suguhannya yang mempesona.

Kegiatan ini menghadirkan penari sebanyak 1.500 orang yang berasal dari 12 kecamatan di Kabupetan Belu, dengan komposisi ; Penari Antama (300 Orang Siswa/I SMP dan SMA/SMK Se-Kabupaten Belu); Penari Likurai ( 500 Orang Siswa/I SMP dan SMA/SMK Se-Kabupaten Belu); Bidu Kikit (100 Orang Siswa/I SMP dan SMA/SMK Se -Kabupaten Belu); Suling Bambu ( 250 Orang dari Sanggar Suling Bambu); Penari Tari Angin (50 Orang Siswa/I SMA/SMK Se-Kabupaten Belu); Tei Ipi Lete (100 Orang-Gabungan Masyarakat daan Siswa/I SMP dan SMA/SMK Se-Kabupaten Belu); Ritual Tabur Benih (50 Orang-Sanggar Masyarakat Desa Lamaksenulu Kecamatan Lamaknen); dan Ritual Inel Asil Hegeseq (50 Orang-Sanggar Masyarakat Desa Dirun Kecamatan Lamaknen).

DCIM\100MEDIA\DJI_0018.JPG

Pagelaran Pesona Musikal Rai Belu Di Sutradarai Oleh Dr. Eko Supriyanto, S.Sn, M.F.A dari Institut Seni Suarakarta Bersama Tim. Mereka Melatih dan Mendampingi Pagelaran Pesona Ukur Naran Hingga Puncak Pelaksanaan Hari Ini.

DCIM\100MEDIA\DJI_0021.JPG

Sampai sekarang pun, saya masih terkesan dengan sajian seni budaya yang luar biasa itu. Seakan saya masih berada di tengah-tengah penonton, masih menyaksikan bersama puluhan ribu penonton lainnya. Ternyata, kesan itu selalu membuat rindu untuk kembali berada ditempat itu.

Saat matahari mulai bergeser, Lembah Fehan Fehan ini semakin terasa romantis, apalagi ribuan penari melenggak-lenggok memenuhi panggung utama di atas Padang Rumput Fulan Fehan. (Bersambung____Pkpsetdabelu/Iryanto/Reynaldo/Michello/Trebor).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *