PENCIPTAAN KESEMPATAN KERJA DI NTT MELALUI PENINGKATAN PELUANG USAHA

Ekonomi Pembangunan

ATAMBUA, Wakil Bupati Belu Drs. J.T Ose Luan didampingi Kadis Koperasi Provinsi Nusa Tenggara Timur, Sylvia R. Peku Djawang, SP,MM membuka Rapat Koordinasi Koperasi, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Tingkat Provinsi NTT di Hotel Matahari Atambua, Kamis (27/2).

Dalam sambutannya, Wakil Bupati menyampaikan masalah ketenagakerjaan yang kita hadapi adalah rendahnya kualitas angkatan kerja dimana 55,55 persen masih berpendidikan sekolah dasar kebawah, tingkat pengangguran terbuka masih 3,01 persen dari angkatan kerja, setengah penganggur 48,55 persen dari jumlah orang yang bekerja, pekerja disektor informal 76,04 persen dan kelompok pekerja keluarga tanpa upah yang mencapai 26,51 persen.

Lanjutnya, masalah ketenagakerjaan yang sangat krusial dihadapi oleh Nusa Tenggara Timur dewasa ini adalah tingginya jumlah tenaga kerja yang berangkat bekerja ke luar negeri dan ke luar provinsi NTT secara non prosedural.

“Tenaga kerja non prosedural yang berhasil kita cegah, tangkap dan pulangkan ke daerah asal, baik di Bandara El-Tari maupun Pelabuhan Laut Tenau, jumlahnya cukup signifikan, akan tetapi tak kunjung surut bahkan terjadi hampir setiap minggu,” ucap Ose Luan.

Mengenai ketransmigrasian, Wabup menyampaikan program transmigrasi diharapkan mampu berkontribusi mulai dari desa, kecamatan, kabupaten/kota sampai provinsi untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi wilayah baru sebagai penggerak utama perekonomian daerah.

“Sudah banyak yang kita kerjakan, namun kita harus mengakui masih banyak warga binaan kita yang belum mandiri sejahtera, serta mengalami berbagai permasalahan lainnya, “jelasnya.

Hal lain yang sangat krusial lanjut Mantan Sekda Belu, dibidang ketransmigrasian adalah masalah pertanahan, percepatan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan warga transmigrasi.

Terkait koperasi, Wabup Ose Luan mengatakan permasalahan yang dihadapi koperasi di Indonesia khususnya NTT dibagi dalam 2 aspek yakni Eksternal dan Internal. Dari segi eksternal yakni corak pekerjaan yang cenderung semakin fleksibel, freelancer atau kemitraan, ekonomi digital tumbuh seiring dengan pertumbuhan infrastruktur IT, arus modal, barang dan jasa lintas negara, e-commerce 94 persen barang import, investasi asing di unicorn/decacorn, revolusi industry 4.0 (Four Point Ziro) yang membuat disrupsi berbagai bidang kehidupan termasuk di bidang ekonomi. Dari segi internal yakni koperasi mengalami sindrom penuaan, koperasi tidak dikelola secara professional, koperasi belum mengembangkan inovasi sehingga terjebak zona nyaman, model kelembagaan yang mengalami stagnasi, koperasi tak sekedar melayani kebutuhan anggota melainkan harus menciptakan enterpreneur, lapangan kerja dan kekayaan.

Untuk mengatasi masalah itu Wabup Ose Luan menekankan diperlukan suatu strategi, komprehensif didalam memodernisasi didalam menjawab tantangan zaman antara lain, mengembangkan model – model bisnis dan kelembagaan baru untuk koperasi melalui pendekatan ekonomi digital yang berbasis pada inovasi dan tata kelola profesional, penguatan koperasi sector riil, regenerasi pelaku koperasi dengan pembaharuan koperasi mahasiswa, koperasi pesantren, koperasi jemaat gereja dan komunitas kreatif lainnya, transformasi digital pada koperasi simpan pinjam dan mengembangkan ekosistem bisnis untuk kota koperasi.

Untuk diketahui kegiatan Rakor Koperasi, Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi dan Kabupaten/Kota dihadiri oleh 42 orang dari Kabupaten/Kota se Nusa Tenggara Timur.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Forkompimda Plus Kabupaten Belu. (prokompimbelu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *