PENTINGNYA 1000 HARI PERTAMA KEHIDUPAN DALAM MEMINIMALISIR STUNTING

Kesehatan Pendidikan & Sosbud

ATAMBUA, Wakil Bupati Drs. J. T. Ose Luan H membuka sosialisasi tentang pendidikan keluarga pada 1.000 hari pertama kehidupan, yang berlangsung di Aula Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belu. Rabu (13/11/2019). Ikut hadir, Bunda Paud Kabupaten Belu, Lidwina Viviawati Lay Ng dan Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Belu, Jhonisius R. Mali, SH.

Kegiatan yang dimotori Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belu digelar dalam rangka penurunan angka stunting di wilayah RI-RDTL Kabupaten Belu.

Wabup Ose dalam arahannya mengajak TP-PKK Kabupaten, Bunda PAUD Kecamatan, Bunda PAUD Desa , Tim Penggerak PKK Kecamatan dan Desa, serta Pengelola PAUD dan pemangku jabatan di tingkat kecamatan dan kabupaten untuk sama-sama mencegah stunting dengan berbagai program.

Sehingga menurut Wabup, Pendidikan Keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan utama. Kualitas keluarga yang baik akan menentukan kualitas kehidupan suatu bangsa untuk mewujudkan negara yang kuat, maju dan sejahtera.

“Keluarga merupakan unsur penting dalam tri pusat pendidikan, selain sekolah dan masyarakat Peran dan Tugas Keluarga adalah untuk mendidik dan mendampingi anak, termasuk didalamnya menumbuhkembangkan karakter anak sejak dini, kompetensi abad 21 dan juga budaya literasi” jelasnya.

Generasi yang sehat, cerdas, kreatif, produktif dan berkualitas berasal dari anak-anak yang sehat, serta tumbuh dengan baik dan mendapat dukungan pendidikan yang berkualitas.

“Generasi inilah yang akan menunjang kesuksesan pembangunan suatu bangsa. Tetapi jika sebaliknya yang terjadi bahwa anak terlahir dan tumbuh dalam situasi kekurangan gizi kronis maka mereka akan menjadi Generasi stunting,” ujarnya.

Seperti kekurangan gizi kronis dapat terjadi sejak bayi berada dalam kandungan hingga usia 2 (dua) tahun atau dikenal dengan periode 1.000 hari pertama.

“Kehidupan Periode 1.000 HPK inilah yang akan menjadi penentu tingkat pertumbuhan fisik, kecerdasan dan produktivitas di masa mendatang,” tandasnya.

Oleh karenanya, pencegahan stunting memerlukan koordinasi antar sektor dan pelibatan berbagai pemangku kepentingan seperti pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Dunia Usaha serta masyarakat umum.

“Semoga peserta yang hadir hari ini bisa terampil dalam memfasilitasi kegiatan sosialisasi di tingkat Desa serta mendampingi Lembaga PAUD dalam penyelenggaraan kelas Orangtua (Parenting) dengan materi pengasuhan 1.000 HPK.

Informasi yang dihimpun, pada tahun 2019, terdapat 10 Desa di Kabupaten Belu menjadi prioritas berdasarkan Keputusan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan yaitu Desa Sisi Fatuberal, Desa Loonuna, Desa Debululik, Desa Lutharato, Desa Henes, Desa Lakmaras, Desa Tohe, Desa Nanaet, Desa Fatuketi dan Desa Nualain.

Sedangkan pada tahun 2020 terdapat 21 Desa Prioritas yang akan di intervensi berdasarkan hasil anaIisis situasi (ansis) oleh Tim Koordinasi Penanggulangan Stunting yaitu : Naitimu, Rafae, Manleten, Teun, Raimanuk, Tasain, Dubesi, Derokfaturene, Maudemu, Lawalutolus, Naekasa, Lidak, Ekin, Rinebsihat, Mahuitas, Fatukbot, Tukuneno, Umanen, Dirun, Nanaenoe, Manuaman dan Fohoeka.

Negara Indonesia menjadi negara dengan prevalensi stunting yang cukup tinggi yaitu menempati peringkat 4 dunia (Survey Riskesdas, Tahun 2013 = 37,2%, Tahun 2018 = 30,8%) dan ini dapat mempengaruhi kinerja pembangunan indonesia serta berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi, kemiskinan serta ketimpangan.

Provinsi NTT menurut survey Riskesdas, Tahun 2013 = 51,7% tahun 2018 = 42,6% Kabupaten Belu menurut Survey Riskesdas, Tahun 2013 = 46,8% tahun 2018 = 38,6% Lokasi stunting terbesar ada di Kecamatan Nanaet Dubesi, Lamaknen Selatan, Raimanuk, Lamaknen serta Kecamatan Tasifeto Barat. (Pkpsetdabelu/Reynaldo).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *