PMI BELU BERKONTRIBUSI MENGURANGI RESIKO BENCANA

Kesehatan Pendidikan & Sosbud

ATAMBUA, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Belu telah memberikan kontribusi yang begitu besar khususnya dalam menangani dan mengurangi resiko bencana di Kabupaten Belu. Hal itu ditegaskan Asisten Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Sekda Belu, Drs. Arnold Bria Seo pada kegiatan Workshop Evaluasi Program Membangun Masyarakat Aman dan Tangguh (MATA) bersama Stake Holder Kabupaten Belu di Gedung Wanita Betelalenok Atambua, Jumat (29/3/2019).

Workshop yang digelar Palang Merah Indonesia dan Australian Red Cross (ARC) ini diikuti Koordinator Project Australian Red Cross Jakarta, Teuku Khairil Azmi, Perwakilan PMI Provinsi NTT, Ir. Ignasius Fernandes, Ketua Palang Merah Indonesia Kabupaten Belu, Drs. Bona Bowe, Perwakilan dari Institut Pertanian Bogor, Para Pimpinan OPD, serta Perwakilan LSM/NGO Lokal.

Bria Seo menjelaskan, relawan yang bergerak dalam dunia PMI merupakan orang–orang yang mengembankan tugas mulia, karena mereka bersedia mengabdikan dirinya untuk membantu sesama khususnya yang mengalami permasalahan terkait bencana, kesehatan dan lainnya.

“Workshop hari ini merupakan Evaluasi Program Pendampingan PMI dan ARC yang dilaksanakan selama 4 tahun di Desa Rafae, Desa Sarabau, Desa Fatuketi dan Desa Renrua terkait penanggulangan Bencana dan kesehatan,” jelas Arnol.

Melalui workshop ini, ungkap Arnol bahwa semua pihak terkait harus menyampaikan kegiatan ataupun program yang sudah dikerjakan dan yang belum dikerjakan, untuk kemudian dapat menjadi satu rujukan atau masukan bagi PMI untuk dilaksanakan dalam program kerja selanjutnya.

“Kami mengapresiasi kepada PMI Indonesia dan Australian Red Cross serta semua pihak terkait, karena melalui Program -programnya sangat membantu Pemerintah Daerah. Kami berharap, usai program MATA , semoga masih ada program – program lainnya yang akan dilaksanakan di Kabupaten Belu,” katanya.

Koordinator Project Australian Red Cross Jakarta, Teuku Khairil Azmi mengatakan, kerjasama PMI Indonesia dan ARC melalui program membangun masyarakat aman dan tangguh (MATA) telah berjalan sejak bulan Juni tahun 2016 dan berakhir pada bulan Juni 2019.

“Berbagai kegiatan dan upaya untuk membuat masyarakat aman dan tangguh telah dilaksanakan lewat berbagai kegiatan dan bantuan langsung yang menyentuh kebutuhan masyarakat selama empat tahun. Kami berharap program ini tetap berlanjut dan kami akan terus berupaya untuk terus mendukung semua kegiatan yang ada,” ujar Khairil Azmi.

Koordinator Project Australian Red Cross Jakarta, Teuku Khairil Azmi

Lanjut Azmi, dalam workshop ini semua pihak dapat berdiskusi mengenai program-program prioritas yang menjadi kesiapsiagaan dalam mengatasi bencana dan masalah kesehatan.

“Kita semua dapat bersinergi untuk melanjutkan beberapa kegiatan yang nantinya melalui diskusi –diskusi, dapat menentukan apa saja yang menjadi prioritas untuk kita lanjutkan, sehingga kesiapsiagaan bencana dan masalah – masalah kesehatan dapat ditangani bersama- sama,” terang Azmi.

Azmi juga berharap melalui workshop ini Program – program kerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Kesehatan dapat disinkronkan dengan program –program PMI sehingga Kegiatan – kegiatan yang telah dilaksanakan dapat terus berlanjut, walaupun masa kontrak kerja program telah berakhir.

“Dalam Program Mata, PMI telah membentuk Siaga Bencana Tingkat Desa (SIBAD) yang terlatih untuk menjadi tulang punggung pengurangan resiko bencana di Desa. Selain itu dibentuk juga kader – kader kesehatan yang bekerjasama dengan puskesmas dan posyandu untuk memberikan pelayanan terutama bagi kesehatan ibu dan anak,” tukasnya.

Ketua PMI Belu, Drs. Bona Bowe mengatakan, wilayah Kabupaten Belu sendiri masih terdapat bencana dominan yaitu Banjir dan Longsor.

“Progam MATA yang dilaksanakan PMI Belu bersama PMI Provinsi dan Pusat serta PMI Australia terdapat banyak hal positif untuk masyarakat. Salah satu hal positif yang dilakukan adalah melatih tenaga sukarela desa untuk bagaimana mengambil tindakan konkrit jika terjadi bencana di wilayah tersebut, sehingga tidak memakan korban jiwa dan meminimalisir kerugian harta benda,” ungkap Bona Bowe.

Bona Bowe menjelaskan, latar belakang workshop ini adalah untuk menyatukan pandangan setiap OPD melalui program – programnya dalam memberi perhatian lebih lanjut kepada Empat desa yang telah di intervensi oleh PMI Australia.

“Selain itu, akan dilakukan juga pembahasan terkait 77 Desa/ kelurahan yang belum diintervensi. Workshop ini menjadi ruang untuk kita berdiskusi dan menyatukan pandangan melalui program,” katanya. (pkpsetdabelu/Reynaldo Klau)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *