ATASI GIZI BURUK, KETUA TP PKK PROVINSI NTT ANJURKAN WARGA DESA LAKMARAS TANAM KELOR

Kesehatan

LAMAKNEN SELATAN, Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Provinsi NTT, Julie Sutrisno Laiskodat meminta warga Desa Lakamaras mengembangkan tanaman kelor untuk konsumsi masyarakat dalam mengatasi persoalan gizi buruk di desa setempat.

“Pengembangan kelor ini program yang sangat baik karena nilai gizi yang begitu tinggi untuk menangani gizi buruk. Gubernur NTT telah mengeluarkan surat agar masing-masing rumah itu minimal harus ada 5 pohon kelor,” katanya saat memberikan arahan dalam kegiatan Sosialisasi Desa Model di Sabulmil, Desa Lakmaras, Kecamatan Lamaknen Selatan, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara. Rabu (26/6/2019).

Ia meminta Pemerintah Daerah setempat agar kelor yang dikembangkan di Desa Lakmaras untuk meningkatkan asupan gizi bagi anak-anak di Desa itu.

“Gizi buruk bisa diberantas dengan cepat dengan makan daun kelor, karena gizi 1 mangkuk daun kelor sama dengan gizinya 17 mangkuk susu. Di dunia ini hanya ada kelor terbaik di Spanyol dan  di NTT. Kita punya tanaman yang bernilai gizi tinggi, tetapi punya  gizi buruk tertinggi di Indonsia. Jadi di desa ini tidak boleh ada lagi yang namanya gizi buruk dan stunting. Itu ada pokja yang akan dibantu oleh Dinas Kesehatan dan BKKBN,” ungkapnya.

Menurut dia, ada banyak manfaat yang bisa diperoleh ketika mengonsumsi tanaman kelor terutama untuk perbaikan sumber daya manusia.

“Untuk itu saya betul-betul meminta agar camat dan kepala desa  memperhatikan hal ini terutama pola asuh anak dan penyiapan gizi yang memadai dalam keluarga. Jadi disini ada 280 kk dan semuanya  wajib tanam kelor,” pinta Julie Laiskodat.

Disampaikan Julie, kesehatan merupakan hal yang paling penting dan bernilai didalam hidup. Kesehatan wajib dimiliki dan diupayakan oleh semua orang, karena kesehatan merupakan kebutuhan dasar manusia.

“Makanya warga  di seluruh desa ini, gizi buruk dan stuntingya harus nol. Caranya dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi. Mencegah stunting  itu harus benar-benar memperhatikan  pola makan, pola asuh dan sanitasi,” tuturnya.

Terobosannya yang PKK lakukan adalah menggandeng semua sektor terkait untuk membangun desa model yang sempurna.

“Kami butuh instansi terkait  agar bergerak bersama dengan kami  dibidangnya masing-masing. Desa Model tidak hanya sekedar sempurna administratif, kesehatan dan pendidikan. Tetapi harus ada unsur bangkit dan sejahtera. Artinya warga tidak hanya bangkit, tetapi harus sejahtera,” tandasnya.

Julie menjelaskan, keberadaan PKK di NTT haruslah berkontribusi besar terhadap kesejahteraan warga. Belu adalah salah satu kabupaten yang memiliki potensi sumber daya  alam  yang cukup besar, yang bisa  dikelola secara baik mulai dari produksi sampai pemasaran sehingga warga bisa memiliki uang.

“Harus ada perputaran ekonomi sehingga masyarakat bisa memiliki uang. Jadi desa model itu kami butuh semua dinas terkait untuk membantu kami mengembangkan potensi-potensi sumber daya alam yang ada di desa ini. potensi-potensi  itu kita mengolah, mengemas dan memasarkan. Dengan demikian warga tidak hanya bangkit, tetapi harus sejahtera,” pungkasnya. (Pkpsetdbelu/Iryanto/Trebor).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *