RAKORDA BIDANG KESEHATAN KABUPATEN BELU, PERANGI STUNTING DAN ELIMINASI MALARIA

Kesehatan Pendidikan & Sosbud

ATAMBUA – Perangi Stunting dan Eliminasi Malaria menuju Belu sehat Indonesia Unggul harus dimulai dari menjaga kesehatan lingkungan serta pemberian asupan gizi yang cukup bagi anak – anak. Hal ini disampaikan Bupati Belu, Willybrodus Lay, SH saat membuka kegiatan Rapat Koordinasi Daerah Bidang Kesehatan Kabupaten Belu di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belu, Kamis (12/12).

Dalam sambutannya Bupati Willy menyampaikan bahwa pada tahun 2018 terdapat 26,95% atau 3.972 anak Stunting di kabupaten Belu. Hal ini disebabkan karena kurangnya asupan gizi serta lingkungan yang tidak sehat.
“ Kabupaten Belu pada tahun 2018 terdapat 26,95% atau 3.972 anak Stunting. Hal ini disebabkan karena kurangnya asupan gizi serta lingkungan yang tidak sehat. Terkadang kurang gizi ini disebabkan juga karena dijaman yang sekarang orang tua sibuk dengan gedget, saat anak lapar disuruh beli mie karena cepat saji kemudian dicampurkan dengan nasi dan dikonsumsi oleh anak,” tandas Willy Lay.

Lanjutnya, untuk menangani masalah stunting Pemprov NTT telah memprogramkan penanaman Kelor yang memiliki kandungan gizi yang sangat baik untuk dikonsumsi anak.
“Program Gubernur NTT untuk menanam kelor di setiap rumah itu sangat baik, karena kelor mempunyai kandungan gizi yang cukup tinggi. Para Camat mulai lakukan itu, karena saat ini sudah memasuki musim hujan,” tegas Willy.

Selain itu, perlu adanya kerja sama lintas sektor untuk menangani masalah stunting di kabupaten Belu.
“Untuk menangani stunting perlu kerja bersama antar lintas sektor dari tingkat bawah sampai pada tingkat atas. tujuannya untuk memonitor secara baik dan perlu didata dengan lengkap anak – anak yang memiliki stunting, sehingga pengecekannya pun lebih efisien. Bagi ibu hamil, pada bulan pertama sudah harus dipantau agar asupan gizinya terjaga secara baik, sehingga angka stunting ini pun terus menurun dan dapat teratasi,” imbuh Bupati Willy.

“NTT juga mempunyai Program bebas dari malaria pada tahun 2023. Ini berarti 3 tahun lagi malaria harus sudah ditangani secara tuntas dan bagi yang terkena malaria harus diberikan pelayanan secara baik dalam 3 tahun ini sehingga penularannya pun dapat teratasi. Saat ini mulai musim hujan, nyamuk pun mulai banyak, oleh karena itu jagalah kebersihan dan kesehatan lingkungan terutama penggunaan sampah plastik yang saat ini menjadi ancaman dunia,” tandas Willy Lay.

Willy Lay juga menegaskan bahwa Permasalahan stunting dan malaria merupakan tugas bersama guna mewujudkan Belu sehat Indonesia Unggul.
“Akhirnya dari rakor hari ini diharapkan angka stunting di kabupaten Belu semakin menurun karena Stunting ini bukan tanggung jawab pemerintah sendiri, namun ini tanggung jawab kita bersama yakni Pemerintah dan masyarakat. Semoga rakor ini dapat membawa Kabupaten Belu menjadi lebih sehat dan mewujudkan Indonesia yang unggul,” tandas Willy.

Rapat Koordinasi Daerah Bidang Kesehatan Kabupaten Belu tahun 2019 ini mengangkat tema “Perangi Stunting, Eliminasi Malaria menuju Belu Sehat Indonesia Unggul”.

Adapun tujuan dilakukannya rapat koordinasi ini yakni untu menyepakati rencana tindak lanjut (RTL) penanggulangan stunting, pengendalian dan pencegahan Malaria di Kabupaten Belu, serta mendapatkan dukungan lintas sektor dan lintas program dalam mengatasi masalah kesehatan di Kabupaten Belu.

Turut hadir dalam kegaiatan Rapat Koordinasi Daerah Bidang Kesehatan Kabupaten Belu yakni, Ketua Komisi III DPRD Kab. Belu, Perwakilan Kadis Kesehatan Prov. NTT, Para Pimpinan OPD, Para Camat, Lurah, Kepala Desa, serta Kepala Puskesmas dan tenaga kesehatan lainnya. (pkpsetdabelu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *