WABUP BELU BUKA SOSIALISASI KIE PRO-PN 1000 HPK

Covid-19 Ekonomi Pembangunan Kesehatan Pemerintahan & Hukum Pendidikan & Sosbud

ATAMBUA – Dalam upaya melaksanakan nawacita kelima yakni penyiapan Sumber Daya Manusia, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Nusa Tenggara Timur menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Materi dan Media Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Proyek Prioritas Nasional (Pro-PN) 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) yang dibuka oleh Wakil Bupati Belu, Drs. J.T. Ose Luan di Ballroom Hotel Matahari Atambua, Jumat (3/7).

Wabup Belu, Drs. J.T. Ose Luan dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa untuk meningkatkan kesejahteraan hidup manusia dan menciptakan generasi yang berkualitas perlu adanya suatu perencanaan yang matang, diantaranya yakni pernikahan yang direncanakan dan pengendalian angka kelahiran.

“Angka kelahiran yang tinggi disebabkan karena sebagian besar remaja nikah tanpa suatu perencanaan yang matang, biasanya hanya atas dasar cinta saja dan tidak memikirkan bahwa setelah menjadi suami dan istri ada hal-hal lain yang harus dipahami dan dijalankan,” terang J.T. Ose.

Lanjutnya, angka kelahiran yang tinggi juga disebabkan karena malapetaka atau kecelakaan dalam hubungan asmara yang mengakibatkan terjadinya pernikahan dini.

“Di zaman dulu, orang tua tidak memberikan ijin atau restu terhadap orang-orang yang belum siap menikah. Dulu itu mau menikah orang harus punya kebun dulu, kebunnya berapa, dan wanita juga harus bisa tenun, sekarang bukan tau tenun tapi tau main hp orang sudah bisa ada suami. Dulu orang dinyatakan siap itu karena berkarya dan bekerja, tapi sekarang dengan pergaulan yang tidak terkontrol dan kebebasan yang ada kemudian disalahgunakan oleh anak-anak remaja kita,” tandas Ose Luan.

Mantan Sekda Belu itu menyampaikan bahwa untuk menekan angka kelahiran dan pernikahan dini, telah dilakukan himbauan-himbauan oleh pemerintah.

“Upaya tidak harus saja dari pemerintah namun dari seluruh elemen. Dinas Pengendalian Penduduk dan KB dan Dinas Kesehatan dan lain-lain, pada tempat-tempat seperti pos yandu, puskesmas terus melakukan himbauan agar terjadi pembatasan kelahiran, dan tidak nikah usia dini,” jelasnya.

Wabup Belu, Drs. J.T. Ose Luan

J.T. Ose Luan menyampaikan bahwa untuk kesejahteraan manusia maka pembatasan angka kelahiran itu penting.

“Orang mau kawin dan hidup bersama karena mau sejahtera dan bahagia, namun misalkan anaknya banyak seperti 8 orang, 1 orang jadi sarjana, sedangkan 7 tidak diperhatikan kualitas hidupnya, seperti asupan gizi dan makanan bernutrisi yang kurang, pendidikan yang tidak diperhatikan dan lain sebagainya, artinya orang tua tidak bertanggung jawab, dan ini juga berdampak pada kemiskinan,” tukasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Perwakilan Badan Kependudukan Dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi NTT, Marianus Maukuru, SE, MPh menyampaikan bahwa pemicu kemiskinan di NTT dan di Indonesia adalah angka kelahiran yang tinggi, dan NTT yang tertinggi di Indonesia.

Lanjutnya, setelah dilakukan diagnosa dan dikaji bersama para ahli ternyata rata-rata orang mempunyai pendapatan yang kecil namun memiliki banyak anak.

“Mengukur garis kemiskinan di NTT, satu orang itu harus menggunakan uang 387.160 rupiah/bulan, dan jika terdapat 8 orang berarti dikali 8. Tapi jika pendapatannya tidak cukup dan dibawah itu berarti dikategorikan miskin. Dan pemicu kemiskinan di NTT dan di Indonesia adalah angka kelahiran yang tinggi,” jelas Marianus.

Marianus Maukuru menyampaikan bahwa untuk menciptakan manusia yang berkualitas dan terwujudnya kesejahteraan hidup masyarakat perlu adanya pembatasan angka kelahiran yang disesuaikan dengan kondisi ekonominya.

“Kita terus mensosialisasikan, mengkampanyekan, dan mengedukasi masyarakat supaya tidak perlu memiliki anak banyak dan disesuaikan dengan kondisi ekonominya. Kita tidak membatasi kelahiran, tetapi kita minta untuk direncanakan sesuai ekonomi keluarga agar anak-anak yang terlahir dari sebuah keluarga itu berkualitas bukan mengejar kuantitasnya. Artinya hidup kedepan bisa berbuat sesuatu, dan menghasilkan sesuatu, bisa produktif dan melahirkan generasi selanjutnya yang juga berkualitas,” terang Marianus Maukuru menutup pembicaraanya.

Selain kemiskinan, jumlah kelahiran yang tinggi dan tidak didukung dengan kondisi ekonomi dalam keluarga juga memicu tingginya angka stunting dan juga gizi buruk.

Untuk diketahui, Fase 1000 Hari Pertama Kehidupan terbagi menjadi tiga yaitu pada masa kehamilan, satu tahun pertama setelah kelahiran, dan masa balita (tahun kedua). Nutrisi dan stimulasi yang diterima buah hati selama 1000 hari pertama kehidupannya akan berpengaruh terhadap tumbuh kembangnya secara jangka panjang.

Hadir dalam kegiatan, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan KB Kabupaten Belu, Drs. Egidus Nurak, Penyuluh Keluarga Berencana, Kader Bina Keluarga Balita dan Pengurus Pusat Informasi dan Konseling Remaja, dan jajaran OPD Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Belu. (Prokompimbelu/RK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *