WARGA DUARATO MENDAPAT FASILITAS AIR BERSIH

Ekonomi Pembangunan Pemerintahan & Hukum

LAMAKNEN, Pemerintah Kabupaten Belu terus berupaya mendekatkan pelayanan air bersih kepada masyarakat desa. Salah satu wilayah perdesaan yang mendapat perhatian Pemerintah Pusat melalui Program Nasional Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) adalah Desa Duarato, Kecamatan Lamaknen. Pelaksanaan program ini diharapkan agar masyarakat dapat mengakses pelayanan air minum dan sanitasi yang berkelanjutan serta meningkatkan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.

Bupati Belu Willybrodus Lay, SH mengatakan, kegiatan Pamsimas ini berjalan lancar karena komitmen dan dukungan masyarakat, Pemerintah Desa serta Pendamping Fasilitator. “Kegiatan Pamsimas melayani sebagian Dusun Duarato dan Dusun Wilis dengan jumlah pemanfaat air minum sebesar 534 jiwa (127 KK),” ungkap Bupati Belu di Acara Serah Terima Program Pamsimas III Tahun Anggaran 2018 di Desa Duarato, Kecamatan Lamaknen, Kamis, (20/6/2019)

Bupati Belu, Willybrodus Lay didampingi Plt. Kadis PUPR, Vincentius K. Laka, Pj. Kades Duarato, Fasilitator Pamsimas memotong pita sebagai tanda diresmikannya fasilitas air minum bantuan dari Program Pamsimas III di Desa Duarato, Belu, NTT, Kamis, (20/6/2019)

Masyarakat patut bersyukur karena Program Pamsimas  kembali lagi ke wilayah perbatasan RI-RDTL, Kabupaten Belu.

“Il hati oa (red: Air sudah ada), Bapak Mama sekalian harus jaga, kalau tidak dijaga kita sendiri yang rugi. Dari dulu program ini sudah ada, tetapi macet. Kali ini datang lagi, karena Pemerintah Kabupaten mengusulkan. Saya harap fasilitas yang ada dijaga jangan sampai tahun depan kran tidak ada lagi, air juga sudah tidak ada karena sebagian pipa sudah hilang,” imbuh Bupati Lay.

Bupati Willy juga mengapresiasi swadaya masyarakat Desa Duarato yang menyumbang uang tunai sebesar 90 juta rupiah, tenaga dan bahan material.

“Untuk beberapa dusun yang belum mendapat, akan dibantu dengan pelayanan mobil tangki mulai bulan depan,” katanya.

Terkait penarikan retribusi Rp. 10.000 per KK, Bupati Belu meminta agar dibuatkan Peraturan Desa (Perdes) sehingga pertanggungjawabannya jelas.

“Ini biar ada transparansi sehingga uang yang dikumpulkan, peruntukkannya jelas dan tepat sasaran dan setiap 2-3 bulan dapat diadakan evaluasi,” tutur Bupati.

Pada kesempatan itu juga dilakukan Penandatanganan Berita Acara Serah Terima Dokumen Pelaksanaan Bantuan Langsung Tunai (BLT) antara Dinas PUPR dan Koordinator KKM Duarato serta Berita Acara Pertanggungjawaban Dana antara Koordinator KKM, Fasilitator Senior dan Koordinator Kabupaten.

Sebelumnya, Koordinator Kelompok Keswadayaan Duarato (KKD), Gregorius Mauk Laku dalam laporan menyampaikan bahwa, pada tahun 2017, telah dilakukan perencanaan yang dimulai dari penggalian gagasan. Salah satu usulan kegiatan adalah Kegiatan Air Bersih dan Sumber Mata Air Bulutau. Usulan ini masuk rangking dan termuat dalam RKPDes Tahun 2018.

“Di tahun yang sama, Pamsimas melakukan intervensi di Desa Duarato dengan alokasi APBN (pusat), kontribusi masyarakat dalam bentuk uang tunai, bahan dan tenaga. Ini merupakan kesempatan emas bagi Desa Duarato untuk mengkolaborasi kegiatan Pamsimas dengan kegiatan dari desa. Sebagai informasi, alokasi APBDes desa Duarato untuk Pamsimas adalah yang paling besar dibandingkan desa-desa lainnya sejak tahun 2017 sampai 2018 ini. Sebagai program pemberdayaan, semua kegiatan dilakukan bersama-sama masyarakat mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan dan pemeliharaan. Ini dimaksudkan agar adanya rasa memiliki dan mencintai sarana-sarana yang terbangun,” jelas Goris Mauk

Koordinator KKD juga melaporkan, pelaksanaan kegiatan ini dimulai bulan September 2018 dan berakhir di bulan Juni 2019. Sebelum pelaksanaan dilakukan pelatihan teknik dan administrasi bagi pengurus agar memahami alur tahapan program, tupoksi serta hal-hal teknis lainnya.

“Kegiatan fisik dimulai dari memperbaiki sumber air, dibuat perlindungan agar air yang tertampung adalah air yang layak dikonsumsikan. Karena harus melewati kali yang lebarnya 70 meter maka dibuatkan jembatan pipa sederhana berupa kawat seling agar bisa menggantung pipa. Ini dimaksudkan agar saat musim hujan, posisi pipa aman dari banjir,” katanya.

Informasi alur jaringan air; bahwa sebelumnya air ditampung di bak Holbese, lalu dipompa ke bak penampung yang berada di Luawil. Dari Luawil, air di pompa menuju bak penampung pada Kapela Duarato. Ketinggian dari bak Holbese menuju bak Kapela Duarato adalah 290 meter dengan jarak 1.700 meter. Kapasitas pompa masing-masing adalah 1,4 m3/jam dengan dilengkapi 5 kran umum. Sistem pengambilan air tidak bebas sepanjang waktu, namun diatur sesuai jadwal. (pkpsetdabelu/michaello)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *